Rabu, 13 Juni 2012

PEREMPUAN JUGA BISA BERUBAH



Sangat sulit untuk menyatakan perempuan sama dengan 
laki-laki, baik dengan mengatas namakan potensi ilmiah maupun potensi lain yang dapat mengidentifikasi kelebihan dari salah satu keduanya. Adanya perbedaan dari dua jenis manusia itu harus diakui, suka ataupun tidak. Atas dasar perbedaan itulah, maka lahir perbedaan dalam tuntutan dan ketetapan hukum, masing-masing disesuaikan dengan kodrat, jati diri, fungsi serta peranan yang diharapkan darinya baik laki-laki maupun perempuan dan itu semua demi kemashlahatan bersama.

Kini peranan keduanya cenderung dimarginalkan lewat beberapa trend publik yang tengah marak saat ini, baik itu trend mengejar takhta atau kekuasaan pemerintahan hingga untuk mengejar profesi sebagai sosok yang disegani. Sebenarnya, ini tak akan menjadi polemik selama keduanya mampu menempatkan posisi masing-masing atau lebih tepat jika keduanya bersedia untuk membangun konsep sinergitas dalam mewujudkan setiap harapan dan cita-cita bersama.

Dunia politik yang awalnya sepi dengan kaum perempuan, saat ini ternyata sudah mulai percaya bahwa bersama perempuan sebenarnya bisa, bukan malah akan menambah masalah atau bahkan membingungkan. Subjek partner dalam bekerja sebenarnya tak melihat pada potensi jenis kelamin, namun, lebih memperhatikan notabene karakter laki-laki dan perempuan, berikut juga dari segi pribadi atau kerakteristik. Hal inilah yang kemudian melahirkan asumsi bahwa kualitas partner kerja bukan dilihat dari potensi umum melainkan lebih cenderung kepada kelebihan dan keunikan masing-masing personal.

Namun, tak jarang pula masih banyak orang yang menganggap bahwasanya pribadi seorang perempuan itu lebih cenderung lemah dan hanya mengandalkan perasaan. Hal ini memang wajar karena, yang tampak dan identik dengan perempuan adalah hal tersebut. Walau demikian, setidaknya bagi para pemerhati gender berusaha menghapus asumsi tersebut dengan sebuah gerakan gender yang dapat mengubah asumsi tersebut.

Banyak perempuan dengan peranannya yang inovatif telah mampu membuat dunia melihatnya dan menganggapnya luar biasa. Sebutlah salah satu istri Rasulullah; Saiyidah Aisyah r.a. yang dengan tanpa titel ilmiah atau bekal pendidikan tinggi ternyata mampu membuka mata dunia bahwa kemampuannya menciptakan peradaban bagi perempuan muslim bisa dipertanggung jawabkan. Bersamanya, Rasulullah SAW. pun mampu mempertahankan semangat dakwah beliau hingga di akhir usia beliau. Namun, jangan kira tidak ada satu nama perempuan dalam sejarah yang mampu membuka mata dunia dengan inovasi yang kontradiktif, justru perempuan semacam ini lebih menjamur di masyarakat hingga akhirnya dianggap sampah masyarakat. Bukan tugas orang lain sebenarnya, pembenahan atas pelecehan perempuan itu tak perlu dengan hanya berupaya menuntut keadilan hukum di atas meja pengadilan, akan tetapi lebihlah mengaca kepada diri sendiri, mengadili diri sendiri dengan tetap bersikap dan berprilaku sesuai dengan fitrahnya.

Sementara bagi para remaja-remaja puteri yang tentunya memiliki mimpi-mimpi dan harapan-harapan untuk kemajuan bangsa, jangan hanya menunggu bola datang, tapi berusahalah mengambil sikap dan menajamkan kepekaan akan kebutuhan bangsa atas diri kalian.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar